DAFTAR KUNJUNGAN

Jumat, 06 April 2012

Ekosistem Terumbu Karang





Setiap Satu Menit, Ekosistem Terumbu Karang di Indonesia Hancur Akibat Ulah Manusia
[Unpad.ac.id, 4/04/2012] Indonesia memiliki kekayaan terumbu karang yang luar biasa. Sayangnya, kondisi terumbu karang di Indonesia saat ini mengalami penurunan drastis yang diakibatkan oleh faktor alam dan faktor manusia, seperti perubahan suhu bumi, pengambilan besar-besaran ikan oleh manusia, polusi air, hingga penangkapan ikan dengan cara yang tidak lazim, seperti melakukan pengeboman dan dengan pukat.
Cahyo Alkantana (berdiri) sedang menyampaikan materi pada Ceramah Ilmiah "Coral Triangle Initiative". (Foto: Arief Maulana)
Hal ini disampaikan Cahyo Alkantana, pembuat film dokumenter dan pembawa acara Ekpedisi Teroka di Kompas TV pada acara Ceramah Ilmiah yang bertema Coral Triangle Initiativedengan judul “Ekspedisi Bawah Laut. Mengenal Laut Indonesia sebagai Salah Satu Segitiga Terumbu Karang Dunia”. Acara ini digelar oleh Organisasi Selam Perikanan dan Ilmu Kelautan (Oseanik) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad pada hari Selasa (03/04) dan bertempat di Gedung Bale Santika Kampus Unpad Jatinangor.
Cahyo mencontohkan rusaknya karang atol di Taman Nasional di Taka Bonerate, Sulawesi Selatan, lalu di Bunaken, Raja Ampat, dan di Kepulauan Banda. “Jika kamu menganggap Raja Ampat sekarang merupakan destinasi favorit untuk diving karena keindahan dunia bawah airnya, lima belas tahun yang lalu Raja Ampat jauh lebih indah dari yang ada sekarang,” tutur Cahyo.
Saat ini terumbu karang di Indonesia sudah tidak ada yang utuh. Hal ini disebabkan besarnya pengrusakan kehidupan di dunia bawah air Indonesia. Ia pun pesimis kelestarian terumbu karang tidak akan ada apa-apa bila pemuda dan masyarakat di sekitar kawasan tersebut tidak sadar untuk menjaga dan melestarikannya.
“Ibaratnya, keindahan alam Indonesia itu merupakan kapal yang sebentar lagi ternggelam. Bertahun-tahun kemudian generasi yang lain tidak akan bisa melihat keindahan alam karena sudah hilang dan rusak,” tegas Cahyo.
Pendapat Cahyo ini diperkuat dengan adanya survei yang dilakukan oleh Coral Triangle Initiative (CTI), yang menyebutkan bahwa setiap satu menit ekosistem terumbu karang di Indonesia hancur akibat ulah manusia. Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan banyak pihak, bahkan dari negara asing. Bentuk kepedulian negara asing terhadap ekosistem terumbu karang di Indonesia dibuktikan dengan melakukan donor terumbu karang yang dilakukan oleh pihak CTI. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya pembukaan lahan baru di sekitar Raja Ampat, Papua.
CTI sendiri adalah sebuah kemitraan multilateral enam negara dibentuk pada 2009 untuk mengatasi ancaman mendesak yang dihadapi sumber daya pesisir dan laut sebagai salah satu wilayah yang memiliki kekayaan paling beragam secara biologis dan ekologis di bumi. CTI beranggotakan Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Timur, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon.
“Beberapa waktu yang lalu CTI mengadakan seminar tentang Coral Triangle di negara Eropa. Mereka antusias dan menjadi aware atas keberlangsungan ekosistem terumbu karang di Indonesia. Namun nyatanya orang Indonesia sendiri belum sadar akan hal tersebut,” ujar Kirana Agustina, mahasiswa Ilmu Kelautan FPIK Unpad yang menggantikan Jamaludin Jompa, Sekretaris Divisi Sekretariat Coral Triangle Initiative (CTI) Nasional pada acara tersebut.
Pada kesempatan tersebut, Cahyo Alkantana juga mengajak para mahasiswa untuk menonton film dokumenter karyanya yang berjudul “Underwater Indonesia”. Film tersebut menampilkan keindahan-keindahan alam bawah laut Indonesia yang kini sangat langka ditemui di daerah dengan spot diving terbaik sekali pun.
Pada kesempatan tersebut, Cahyo pun menggerakkan mahasiswa untuk ikut serta menjaga kelangsungan ekosistem terumbu karang di Indonesia. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan konsep Ekoturis. Konsep ini menurutnya lebih efektif ketimbang melakukan pendonoran atau penanaman karang-karang baru. Dengan konsep ekoturis, bukan hanya ekosistem yang akan terjaga, namun pendapatan masyarakat pun akan menjadi naik dan tentunya mereka akan sadar untuk menjaga daerahnya karena telah menjadi destinasi wisata.
“Dengan acara ceramah ilmiah ini, mahasiswa minimal diharapkan tahu dan menjaga mengenai keberlangsungan ekosistem terumbu karang di Indonesia. Setidaknya mahasiswa mulai concern dengan kondisi alam di Indonesia,” tutup Anindita Rustandi, ketua pelaksana kegiatan ini.*
Laporan oleh: Arief Maulana |  |  | mar*


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar